Tampilkan postingan dengan label rock. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rock. Tampilkan semua postingan
The Doors
Masih Laris Manis setelah 40 Tahun Berlalu
Masih Laris Manis setelah 40 Tahun Berlalu
Los Angeles—1979, delapan tahun setelah kematian vokalis Jim Morrison, lagu band The Doors, “The End”, membakar hati penonton film selama adegan pembuka epik Vietnam yang menjadi film penting Francis Ford Coppola, Apocalypse Now.
Kemudian, 1991, film biografi The Doors karya Oliver Stone menyalakan kembali minat terhadap band ini, kenang manajer Jeff Jampol, berkomentar tentang popularitas abadi dan berulang band tersebut.
Kini, para anggota yang masih tersisa—kibordis Ray Manzarek, gitaris Robby Krieger, dan drumer John Densmore—sedang bersiap-siap merayakan ulang tahun ke-40 album bertitelkan nama sendiri tahun 1967 dengan serangkaian kegiatan untuk kembali menyalakan minat terhadap band ini di antara generasi baru.
Sebuah biografi resmi pertama band ini dan sebuah promosi dari mulai nada dering hingga produksi teatrikal di Las Vegas yang akan menampilkan musik kelompok ini tengah digodok.
Sementara itu, The Doors telah menjadi salah satu kiprah rock yang paling sering ditulis dan diterbitkan ulang, satu paket ulang “Perception” dari Rhino/Elektra Records dan buku The Doors by the Doors yang diterbitkan Hyperion akan dijual dengan sesuatu yang berbeda.
The Doors by the Doors, terbit 7 November, adalah sejarah lisan yang ditulis Ben Fong-Torres, jurnalis yang melakukan wawancara terakhir dengan Morrison dan kemudian menulis obituari Rolling Stone.
Sementara mengerjakan buku tersebut, Fong-Torres melahap setiap keping musik Doors, arsip rekaman video dan wawancara yang telah diterbitkan dan kemudian menggali lebih dalam, melakukan wawancara baru dengan tiga anggota tersisa, keluarga mereka, dan rekan-rekan dekat mereka.
“Ada lebih banyak detail dari sahabat-sahabat yang belum diungkapkan sebelumnya, karena saya mewawancarai mereka dan menanyakan lebih banyak detail dan lebih banyak informasi,” kata Fong-Torres.
Buku setebal 288 halaman juga akan memasukkan foto-foto dan memorabilia yang belum pernah diterbitkan, termasuk lukisan-lukisan Morrison dan lirik dengan tulisan tangannya kepada “L.A. Woman”. Semua itu didapat Fong-Torres dari Diane Gardner, mantan juru bicara Doors, yang tinggal di aparteman di bawah kekasih Morrison, Pamela Courson. Di apartemen Gardner-lah kesempatan pertemuan antara Fong-Torres dan Morrison menjadi wawancara terakhir yang diterbitkan.
Suara Baru
Sementara itu, The Doors by the Doors akan menyenangkan para penggemarnya dengan detail-detail baru di belakang kemashyuran dan kejatuhan band tersebut, satu paket berisi 12-cakram “Perception”, yang diterbitkan 21 November, menjanjikan pengungkapan aspek-aspek suara yang belum pernah diperdengarkan kepada para penggemar setia. Set tersebut terbagi menjadi dua yang terdiri atas enam CD dan enam DVD, menampilkan enam album band tersebut yang direkam di studio Elektra.
Berbeda dari album-album paket ulang lainnya, “Perception” memasukkan stereo baru dari enam album, yang memasukkan vokal-vokal latar dan editan-editan yang ditinggalkan album orisinal. Album-album versi DVD memasukkan galeri foto, lirik, diskografi, dan dua video lagu pada tiap-tiap cakram.
“Ada banyak hal yang tidak digunakan dalam album-album pada saat itu—vokal harmoni, parts gitar yang berbeda—dan kami mengembalikannya, jadi mereka yang mendengar versi baru akan mendengar banyak hal baru,” kata Bruce Botnick, engineer setia Doors, yang menyupervisi set baru tersebut.
“Album pertama (The Doors (1967)) tidak pernah terdengar dalam kecepatan yang tepat,” kata Botnick. “Album tersebut selalu terdengar lamban. Jadi, mereka yang membeli album-album baru ini akan mendengarnya dalam kecepatan yang tepat untuk pertama kali.”
Bahkan, sebelum pembukaan resmi peringatan ulang tahun ke-40 dimulai, Doors sekali lagi membuktikan kemampuan komersial mereka. Pada Agustus lalu, Rhino/Elektra mengeluarkan kembali CD ganda The Best of the Doors, yang kembali menduduki posisi nomor satu pada tanggal album katalog Top Pop Billboard.
“The Doors telah menjadi merek ikonik selama 39 tahun,” kata Jampol. “Saya benar-benar berada dalam posisi yang mewah dan bersyukur karena memiliki sebuah merek yang benar-benar relavan hingga saat ini.”
0
komentar
Barometer yang saya maksud disini adalah suatu tolak ukur.
Oke.. Sebelumnya kita akan membahas sedikit materi tentang kehidupan. Mungkin anda selalu memikirkan bagaimana meraih kehidupan yang layak, ataupun kehidupan yang lebih baik. Apa yang telah anda lakukan untuk mengubah suatu gebrakan dalam hidup anda yang sifatnya membangun?
Mungkin bagi mereka yang masih menimba ilmu didunia pendidikan adalah belajar dengan tekun, dan bagi yang telah meniti karir adalah semangat belajar juga bekerja untuk meraih prestasi yang membanggakan.
Kita selalu mengukur apakah usaha juga upaya yang kita lakukan selama ini itu telah menghasilkan sesuatu yang maksimal juga membawa pengaruh yang positif dalam kehidupan kita. Tak jarang pula kita mengalami suatu kejenuhan disaat melakukan ‘Langkah Mnuju Harapan’.. Merasa sepi, jauh, atau apalah… yang pasti hal ini menjadikan kita sebagai ‘Pribadi Yang Tersudut’. Ini adalah salah satu dilema kehidupan yang kita hadapi dan mau tidak mau, suka tidak suka, kitapun akan mengalaminya. Bagi ‘Pemenang’ dia akan terus merangkak menuju cahaya nan cemerlang, tetapi mungkin bagi sang ‘Pecundang’ dia akan terus terperosok kedalam lubang hitam nan kelam.
Kita tidak akan membahas tentang si ‘Pemenang’ karna siapapun mengetahui bahwa pemenang yang berkuasa. Jadi, Kali ini kita akan membahas bagaimana ‘Pecundang’ dapat bangkit dari keterpurukan yang selalu menghantuinya setiap saat, setiap waktu.
Bukannya saya sok pintar, akan tetapi tidak ada salahnya bila kita memberikan pandangan yang dapat membangkitkan semua pembaca agar kembali bersemangat dan dapat mersakan kebangkitan jiwa yang telah tertidur yang mungkin takkan pernah bangkit kembali.
Izinkan saya bercerita sedikit tentang pengalaman saya:
Saya terlahir dari ‘Keluarga baik-baik’. keluarga baik-baik yang saya maksudkan disini adalah bagaimana kedua orang tua saya yang telah menafkahi, memelihara, juga mendidik saya dengan ‘Yang Halal’. Tetapi sebagai manusia kita semuapun memiliki berbagai kekurangan. Dan kitapun tak pernah dapat dengan mudahnya mengalahkan emosi yang meledak ketika masalah sedang menimpa kita.
Dan itulah yang dulu saya alami ketika menjadi korban ke absolutan orang tua. Saya tak pernah mengerti tentang apa yang telah orang tua terapkan kepada saya, dan saya pun hanya mengiyakan apa yang mereka lakukan terhadap saya. Hanya karena kata-kata ‘Bapak mengerti apa yang terbaik buat kamu..!’. oiya… saya lupa menjelaskan kalau saya adalah bungsu dari dua bersaudara. Selisih usia saya dengan kakak adalah 6 tahun. Ketika disekolah kakak tidak terlalu pandai dalam menimba ilmu, dan dia pun menjadi ‘Pribadi Yang Tersudut’ seperti yang saya jelaskan diatas. Hal itu dikarenakan bagaimana cara orang tua saya yang mendidik kakak dengan cara yang keras juga melakukan berbagai pembatasan diri sehingga kakakpun sangat sulit untuk mengembangkan bakatnya.
Tetapi setelah orang tua saya merasa bahwa karna mereka sendirilah yang telah melakukan kesalahan disaat mendidik kakak sehingga menjadi demikian. Maka dari itu orang tua tak lagi menerapkan cara didik mereka yang keras itu kepada saya. Tapi sayapun sebetulnya merasakan sedikit apa yang kakak rasakan, hanya bedanya orang tua cepat mengambil kesimpulan bahwa mereka salah. Saat ini saya telah dewasa, saya mengerti apa yang terbaik buat saya, hanya saja saat ini saya tetap membutuhkan tuntunan orang tua, karena walau bagaimanapun orang tua ‘Banyak memakan asam garam’. Oke… saya menurut. Tetapi bedanya mereka memberikan kebebasan kepada saya untuk berkarya, tanpa mengesampingkan prestasi saya. Karena orang tua pasti sangat mengharapkan anak kedua harus lebih baik dari anak pertama. Saya diharuskan menutup segala kekurangan kakak dengan prestasi yang membanggakan. Tetapi menurut saya ‘Nilai atau prestasi itu bukanlah coretan pada kertas’,tetapi bagaimana kita dapat memaknai apa itu sesungguhnya hidup. Walau hidup saya penuh beban karena suatu tuntutan. Tetapi saya dapat segera bangkit, beristirahat sejenak kemudian kembali berlari untuk mengejar apa itu ‘Cahaya’ dengan cara’Langkah Menuju Harapan’. Banyak sekali teman, guru, kepala bidang yang mencemooh saya. Tetapi saya tak pernah merasa kesepian karena saya selalu memiliki teman sejati, yaitu ‘MUSIK’. Dan hal ini juga yang telah mengubah predikat saya dari Si ‘Pecundang’ menjadi Si ‘Hebat’. Hal itu dikarenakan sejak kecil saya sangat menyukai musik, khususnya adalah musik rock. Musik Rock memberikan ‘Suntikan’ yang tak saya dapatkan dari hal lainnya. Suntikan untuk bangkit, karena musik rock menyuguhkan suatu kekuatan dengan beatnya yang cepat, sehingga sang pendengar menjadi lebih bersemangat ketika mendengarnya. Lain halnya apa bila mendengar musik dengan tempo yang lamban.. itu dapat membawa kita larut dalam kesedihan, malas dan rasa berat bahkan sulit untuk bangkit. Tak diragukan lagi bahwa musik sangat mempengaruhi pola pikir seseorang. Maka dari itu saya mengasumsi bahwa “MUSIK ADALAH BAROMETER KEHIDUPAN”.
adalah sebuah dunia dimana para "ROCKER" berkumpul, berkarya, bersatu padu untuk melawan juga memberantas semua jenis musik yang tidak berkelas dan berbobot. dan apakah anda seorang ' \m/ ' ?? hanya anda yang dapat menjawab semua teka teki kehidupan anda, dimana anda sendiri akan berapresiasi dengan apa pentingnya senbah aliran untuk sebuah lagu / sebuah band, karena disitu kita akan mengalami suatu gebrakan dari dalam diri anda, yang perlahan - lahan akan mengubah karaktreristik anda, pola pikir anda, dan yang pasti akan menjadikan anda sseorang pribadi yang lebih bermakna, karena menurut saya, musik adalah ekspresi dari diri kita, atau bisa juga gambaran dari diri kita, tergantung bagaimana orang memaknai jenis jenis musik. misal dengan kita mendengarkan musik yang terkesan musik yang asal - asalan, yang liriknya mungkin kebanyakan tentang cinta, cinta, dan cinta lagi, yang bisa menjadikan jalan pikiran kita cenderung lemah dan rapuh, tapi sebaliknya, denga kita mendengarkan musik rock, kita serasa hidup kembali, dengan alunan musik yang kental sekali dengan tempo cepat, dengan melody yang menarik dan menonjol, musik ini membangkitkan jiwa, sehingga kita lebih bersemangat menjalani hidup dan melawan hari.
Evolusi musik rock
Tahun 1950-an - awal 1960-an
Tahun 1970-an
Tahun 1980-an
Extreme metal/Underground metal
Tahun 1990-an
Ragam hibrid
Tahun 2000-an
Langganan:
Postingan (Atom)

